Tentang Kami
Indonesia memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia (dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu*, 2500 jenis Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan**) Namun, terumbu karang, di Indonesia merupakan salah satu kawasan yang paling terancam di dunia. Selama 50 tahun terakhir, proporsi penurunan kondisi terumbu karang Indonesia telah meningkat dari 10% menjadi 50% (Reef at Risk, 2002) . Tekanan yang dialami terumbu karang semakin meningkat seiring dengan aktifitas pembangunan, tekanan dari alam, dan perubahan iklim dunia (climate change). (sumber: * Veron 2002, **Moosa 1998)
Sayangnya data dan sumber daya yang tersedia untuk pengelolaan terumbu karang berbasiskan sains sangat terbatas. Dengan lebih dari 17,500 pulaunya, salah satu solusi yang memungkinkan ialah membangun program pengelolaan terumbu karang yang berbasiskan masyarakat. Untuk itu diperlukan data yang berkesinambungan untuk mampu menggambarkan perubahan kondisi terumbu karang sebagai bahan pertimbangan untuk pengelolaannya.
Reef Check adalah salah satu alternatif pemantauan terumbu karang yang tepat untuk menjawab permasalahan ini. Metoda-metoda saintifik yang bisa digunakan sebagai masukan pengelolaan cukup sederhana, dan dapat dilakukan oleh masyarakat penyelam awam dengan cakupan daerah yang luas. Langkah-langkah pengelolaanpun dilakukan dari, oleh, dan untuk para pemangku kepentingan lokal, dengan difasilitasi program Reef Check di dunia.
Metode Reef Check masuk ke Indonesia pertama kali tahun 1997 di Karimun Jawa. Seiring dengan semakin meluasnya survey-survey Reef Check di Indonesia, maka sejak tahun 2001 secara resmi dibentuk Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI). JKRI menjadi wadah untuk saling bertukar pikiran dalam pelaksanaan survey Reef Check dan memperkuat program konservasi di Indonesia. WWF Wallacea Bioregion dipercaya selaku organisasi tuan rumah dengan Naneng Setiasih sebagai Koordinator. Dalam pertemuan nasional di Bali bulan Maret 2005, istilah Koordinator diganti menjadi Dinamisator dan Risfandi dari Yayasan Bahari (Yayasan Bahari- YARI) terpilih sebagai Dinamisator 2005-2008, dengan Abdullah Habibie (Yayasan Taka) sebagai wakil dinamisator Sejak itu, -YARI yang terletak di kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menjadi tuan rumah dari JKRI.
Sampai tahun 2005, JKRI telah melakukan pengamatan di ratusan lokasi di 15 provinsi dan melibatkan sekitar 1000 sukarelawan dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerintah, LSM, dive-dive operator, hingga penyelam rekreasi.
Meningkatnya kebutuhan akan konservasi terumbu karang di Indonesia mendorong terbentuknya Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI). Organisasi nirlaba ini didirikan pada bulan Juli 2005 dan berkantor pusat di Denpasar, Bali. YRCI merupakan bagian dari JKRI.
Kemudian dalam pertemuan nasional 2008, disepakati oleh JKRI bahwa dinamisator untuk 3 tahun ke depan akan dipegang oleh Yayasan Reef Check Indonesia. Selain itu dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menjadikan 22 Oktober, setiap tahunnya sebagai Reef Check Day Indonesia- Peluncuran acara survei rutin tahunan Reef Check di Indonesia-.
untuk informasi lebih lanjut: Email ke rcindonesia@reefcheck.org




