Yayasan Reef Check Indonesia
Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI)berdiri tahun 2005, lahir dari gerakan sukarelawan konservasi yang masuk ke Indonesia pada tahun 1997. YRCI adalah bagian dari keluarga besar Reef Check Internasional yang tersebar di sekitar 90 negara di dunia. YRCI adalah organisasi nonprofit yang berkomitmen bagi pelestarian ekosistem laut dan pesisir secara terpadu untuk peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat bahari melalui 3 landasan : sains dan teknologi, pendidikan dan kesadartahuan, serta pengelolaan kolaboratif.
Coral damage affects humans: Experts
Agustus 8th, 2011
Desy Nurhayati, The Jakarta Post, Denpasar | Fri, 08/05/2011 10:34 AM
Damage to coral reefs could affect various critical aspects of human life and should not be viewed as merely a loss of marine biodiversity, an expert warned.
“Coral reef damage also greatly affects food security, income, the stability of the whole ecosystem, and could increase the threat of coastal disasters,” Jensi Sartin from Bali-based Reef Check Foundation Indonesia said.
“Coral reefs support the lives of many people in various sectors. It contributes some US$1.22 million to the fishery sector and $212 million to Indonesia’s marine tourism industry,” he said at a recent workshop on climate change and coral reef resilience in Amed, Karangasem. Read more
Berpulangnya Tokoh Inspiratif Dunia Selam dan Konservasi Indonesia
Juli 8th, 2011
“Program-program konservasi harus meninggalkan rekam jejak, footprint yang nyata, yang dapat dirasakan oleh masyarakat”. Kalimat yang selalu diingatkan oleh Alm Hidayat Prayogo. Salah satu tokoh yang menggerakkan dunia selam Indonesia ini serta katif dalam konsrvasi terumbu karang. Sejak 2005 menjadi salah satu Dewan Pembina Reef Check Indonesia. Bahkan sejak 2010 kemarin, menjabat sebagai ketua Dewan Pembina Reef Check Indonesia.
Pak Gogo, demikian beliau akrab disapa, adalah satu dari inovator dunia selam yang dimiliki Indonesia. Selain menjabat sebagai Direktur ADS International Indonesia, beliau juga memegang berbagai lisensi selam mulai dari selam rekreasi hingga komersial. Lebih jauh beliau juga aktif di GAHAWISRI Bali, di bidang Penelitian dan Pengembangan. Termasuk juga aktif di KADIN Bali.
Salah satu inovasi dan sumbangsihnya bagi konservasi terumbu karang ialah idenya untuk mendesain Hexadome (www.hexadome.org), suatu metode dan teknologi rehabilitasi terumbu karang. Sosok yang energik ini juga sempat mendesain apa yang disebut “green anchor”, dari pemikiran sederhana bahwa perlu dibuat mekanisme jangkar/anchor yang ramah lingkungan sekaligus juga kuat. Sayang, ide ini belum sempat diujicobakan.
Berbagai kenangan dan ide-ide beliau akan selalu menjadi semangat bagi kita dan generasi-generasi selanjutnya. Mengingatkan kami bahwa kita juga harus benar-benar turun langsung melihat dan aktif di lapangan, tidak pernah berhenti berinovasi dan selalu memberi yang terbaik.
Pak Gogo, selamat jalan, terima kasih atas semuanya. Kami akan melanjutkan perjuangan bapak.
Salam selam.



